Tuesday, November 3, 2015

Soal Latihan UKG ONLINE Guru Kelas SD

Soal Latihan ini bersifat Online dan hanya berisi 10 soal, dengan maksud agar anda tidak terlalu lelah menyelesaikannya. Nantikan soal terbaru untuk latihan UKG Online 2015 di blog ini


Thursday, April 9, 2015

Cara Membuat RPP Model WIPPEA

Cara Membuat RPP Model WIPPEA


Salah satu runtutan proses pembelajaran di kelas yang dapat menunjang keberhasilan guru dalam mengajar adalah dengan menggunakan model WIPPEA (Warm Up, Introduction, Presentation, Practice, Evaluation, dan Application). Model RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) ini biasanya digunakan untuk jenis-jenis materi ajar berbentuk keterampilan seperti ketampilan berbahasa, olahraga, atau untuk mengajarkan skill lainnya kepada siswa. Model pengembangan RPP WIPPEA dikembangkan dari hasil kerja Hunter pada bukunya yang berjudul Mastery Teaching, 1982.

RPP dan Efektivitas Proses Belajar Mengajar

Pengembangan RPP adalah salah satu langkah penting sebelum guru mempraktekkannya di kelas. Pengembangan RPP sangat menentukan apakah pembelajaran yang akan dilakukan guru dapat sukses atau tidak nantinya. RPP yang dikembangkan dengan baik akan mampu menjadi petunjuk bagi guru dalam melaksanakan PBM-nya. Pada tahap ini guru akan mempertimbangkan berbagai aspek yang nantinya akan berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar siswa dan kemudahannya dalam mengajar. Perencanaan yang gagal otomatis akan membuat pembelajaran gagal, walaupun keberhasilan dalam mengembangkan RPP yang bagus belum tentu menjamin keberhasilan dalam mengajar saat proses pembelajaran berlangsung.

Pada RPP yang dikembangkan inilah guru akan menentukan tujuan-tujuan pembelajarannya, langkah-langkah yang dilakukan selama mengajar dan selama siswa belajar, bahan-bahan dan alat yang dibutuhkan hingga media dan evaluasi dan penyiapan latihan untuk siswa. Semuanya itu sebaiknya tertulis di dalam RPP sehingga akan membantu guru mengorganisasikan pembelajarannya dengan baik dan efektif.

Model WIPPEA untuk Pengembangan RPP

WIPPEA sendiri adalah 6 langkah yang harus dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran. Tentunya sebelum mengembangkan dan menuliskan keenam langkah ini, guru terlebih dahulu harus merumuskan tujuan pembelajarannya dengan baik. Nah, setelah semua tujuan pembelajaran dirumuskan barulah kemudian guru merumuskan langkah-langkah KBM menurut urutan WIPPEA tersebut. Baiklah, sekarang kita akan mengulas keenam urutan langkah model WIPPEA selama proses pembelajaran.

Warming Up (Pemanasan)

Pemanasan adalah cara-cara atau strategi yang dapat dilakukan guru untuk menyiapkan siswa ke dalam inti pembelajaran. Pada langkah pertama model WIPPEA ini, guru dapat melakukan pemanasan dengan mengasses pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Ini dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan. Stimulus dapat dilakukan dengan beragam cara untuk memberikan pemanasan, misalnya dengan gambar, video, atau peragaan oleh guru. Pemanasan juga dapat dilakukan dengan mengasses pembelajaran sebelumnya yang berhubungan erat dengan pembelajaran yang akan dilakukan.

Introduction (Pengantar)

Guru dapat memberikan pengantar berupa penyampaian tujuan pembelajaran baik secara tertulis maupun lisan. Tujuan-tujuan pembelajaran ini harus dipahami betul oleh siswa. Selanjutnya guru dapat meminta siswa menanggapi tujuan-tujuan pembelajaran tersebut. Tanggapan boleh dalam beragam bentuk misalnya pertanyaan, ulasan atau apapun, yang kemudian dapat dicatat oleh guru terutama untuk tanggapan-tanggapan yang sifatnya penting dan berhubungan erat dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Presentation (Presentasi atau Penyajian)

Harap jangan diartikan presentasi di sini dalam arti sempit seperti guru memberikan ceramah. Ada banyak model presentasi yang bisa disajikan kepada siswa. Memang tentu tidak salah jika memberikan ceramah, tetapi harus sesuai dengan sifat materi pembelajaran. Karena model WIPPEA ini sebenarnya lebih cocok untuk mengajarkan materi yang berbentuk keterampilan, maka pemodelan, demostrasi, atau presentasi contoh produk dari keterampilan tersebut tentulah lebih diutamakan. Guru dapat menampilkan video, realia, atau model untuk produk. Jika semisalnya keterampilan berbahasa yang akan diajarkan, maka mungkin yang dipresentasikan adalah kosa kata baru atau struktur kalimat yang baru yang belum siswa ketahui dan akan mereka pelajari.

Practice (Latihan)

Setelah siswa diberikan contoh-contoh, diberikan demostrasi, pemodelan atau diberikan presentasi yang berhubungan dengan apa yang akan mereka pelajari, maka guru pada langkah latihan akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatihkan keterampilan tersebut. Alokasi waktu yang diberikan untuk tahapan ini tentu lebih besar dibanding tahap-tahap sebelumnya. Siswa melakukannya secara individual atau berkelompok di bawah bantuan guru.

Evaluation (Evaluasi)

Selesai berlatih, maka keterampilan atau produk yang dihasilkan oleh siswa dalam kegiatan latihan harus dievaluasi oleh guru. Guru akan memberikan masukan-masukan untuk menyempurnakan, atau memberikan koreksi jika terdapat kesalahan-kesalahan. Pada tahap ini siswa berkesempatan pula untuk menilai dirinya sendiri atau bahkan mungkin dapat diberikan kesempatan untuk memberikan masukan untuk siswa lainnya.

Application (Penerapan)

Untuk tahapan yang terakhir ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang baru diperolehnya dalam bentuk yang sedikit berbeda. Pada tahap ini siswa berkesempatan untuk menajamkan apa yang telah mereka kuasai. Tentu saja tahap penerapan atau aplikasi ini dapat ditambakan dengan memberikan tugas rumah atau proyek untuk dikerjakan baik secara individual maupun secara berkelompok.

Itulah enam langkah model pengembangan RPP bentuk WIPPEA yang seringkali digunakan untuk mengembangkan RPP untuk mengajarkan keterampilan kepada siswa dari blog penelitian tindakan kelas dan model pembelajaran.

Thursday, January 29, 2015

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Guru dalam Pendekatan Kontekstual

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Guru dalam Pendekatan Kontekstual


Pendekatan kontekstual (contextual approach) yang seringkali disebut juga sebagai pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning : CTL) adalah pendekatan pembelajaran yang memandang pembelajaran di kelas harusnya selalu mengupayakan dan memfasilitasi siswa untuk menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata (real life situation). Karena itu, seorang guru yang mengajar dengan pendekatan ini harus dapat menyajikan pembelajaran di mana di dalamnya ia berperan sebagai fasilitator dan membawa anak kepada pemecahan masalah nyata melalui pengetahuan yang baru diperolehnya. Pendekatan ini tentunya menghendaki semua komponen kelas aktif dalam belajar.

Jika seorang guru ingin menerapkan pendekatan kontekstual di dalam kelas dan pembelajarannya maka ia harus memperhatikan pemikiran-pemikiran berikut.

Belajar tidak hanya sekedar menghafal

Ujian merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari dunia persekolahan kita. Sedemikian dianggap pentingnya ujian yang notabene lebih banyak menuntut siswa menguasai hafalan, maka tak jarang siswa dibawa guru untuk belajar secara menghafal. Ini tentu sesuatu yang salah dan harusnya dihindari. Memang ada dilema dalam dunia persekolahan kita, di mana siswa dirtuntut untuk lulus ujian, dan ujian menjadi suatu momok bagi sebagian siswa dan guru. Rendahnya nilai ujian juga akan menjadi taruhan bagi sekolah bahkan institusi setingkat dinas pendidikan. Seharusnya, mengajar siswa dengan cara menghafal harus dihindari karena bukan itu esensi dari sebuah pengetahuan. Siswa sudah seharusnya mengkontruksi pengetahuan di benak mereka secara bermakna sehingga mereka dapat menerapkannya untuk kepentingan kehidupan mereka seperti untuk pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Sekolah

Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Sekolah


Isu yang berkembang luas tentang kualitas pendidikan saat ini adalah ketidakmampuan siswa dalam memcahkan persoalan (masalah) dalam kehidupan sehari-hari. Padahal ini sangat penting karena berorientasi jangka panjang, bukan semata selesai pada saat mereka berada dalam lingkungan sekolah. Setiap siswa yang memperoleh pengatahuan di bangku sekolah sudah seharusnya dapat menerapkan apa yang diperolehnya tersebut dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari. Pengetahuan harusnya menjadi bekal hidup bagi mereka saat terjun di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari masyarakat itu.

Muncullah kemudian sebuah paradigma baru dalam kegiatan pembelajaran di mana siswa diajak untuk berada dalam situasi alamiah. Menurut paradigma ini proses belajar siswa akan lebih bermakna jika mereka berada dalam situasi alamiah tersebut. Mereka tidak sekedar mengetahuinya saja, tetapi harus mengalami dan mempunyai pengalaman nyata akan proses belajarnya.

Paradigma inilah yang kemudian melahirkan pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran. Dalam bahasa aslinya, pembelajaran kontekstual disingkat dengan CTL (Contextual Teaching and Learning). Pada pendekatan ini, fasilitator pembelajaran dalam hal ini guru harus membantu siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan yang sedang dipelajarinya dengan penerapannya di dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran yang dilakukan di kelas-kelas menjadi bermakna dan bermanfaat bagi siswa kelak. Jadi menurut pembelajaran yang mengakomodasi pendekatan kontekstual, guru bukan sekedar mentransfer pengetahuan. Bukan, guru bukan satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan. Justru pengetahuan itu sebaiknya didapatkan dari beragam sumber yang difasilitasi oleh guru dalam KBMnya. Proses pembelajaran menjadi suatu bagian penting, tidak semata pada hasil belajar saja.

Sunday, November 16, 2014

Download Ebook UN SMP 2015 terbitan Kemdikbud

Baru-baru ini kami blog penelitian tindakan kelas, memperoleh 5 buah ebook terkait persiapan UN 2015. Ebook dalam format pdf ini tentunya sangat penting bagi siswa dan guru-guru SMP/MTs untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional yang akan digelar beberapa bulan ke depan (di tahun 2015). Setiap ebook yang diberi judul Materi Pengayaan Ujian Nasional (UN) ini berisi tabel penjabaran kisi-kisi Ujian Nasional tahun pelajaran 2014/2015, dan 3 buah paket soal lengkap dengan pembahasannya. Ebook-ebook ini sendiri terdiri dari:


  • Ebook Materi Pengayaan Ujian Nasional (UN) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs
  • Ebook Materi Pengayaan Ujian Nasional (UN) Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP/MTs
  • Ebook Materi Pengayaan Ujian Nasional (UN) Mata Pelajaran Matematika untuk SMP/MTs
  • Ebook Materi Pengayaan Ujian Nasional (UN) Mata Pelajaran IPA-Fisika untuk SMP/MTs
  • Ebook Materi Pengayaan Ujian Nasional (UN) Mata Pelajaran IPA-Biologi untuk SMP/MTs

Diterbitkannya ebook ini oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan akan membantu sekolah-sekolah dalam persiapan UN mendatang.

Silakan Download File-File tersebut (terkait UN SMP 2015) dengan mengklik gambar di bawah.
cover ebook materi pengayaan dan kisi-kisi UN 2015
Cover Ebook
penjabaran kisi-kisi UN 2015 dan paket soal bahasa indonesia
Bahasa Indonesia
penjabaran kisi-kisi dan paket soal pengayaan UN 2015 bahasa inggris
Bahasa Inggris
penjabaran kisi-kisi dan 3 paket soal pengayaan UN 2015 matematika
Matematika
penjabaran kisi-kisi dan 3 paket soal pengayaan IPA-Fisika UN 2015
IPA-Fisika
penjabaran kisi-kisi dan 3 paket soal pengayaan UN 2015 IPA Biologi
IPA-Biologi
Demikian file-file yang dapat kami bagikan melalui blog penelitian tindakan kelas ini dalam rangka persiapan menjelang Ujian Nasional (UN) tahun 2015 yang sudah di ambang pintu. Semoga bermanfaat. Wassalam.

Saturday, October 25, 2014

Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas

komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas
guru harus menguasai komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas

Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas

Pada dasarnya, terdapat banyak sekali komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas yang harus diperhatikan oleh seorang guru dalam memanajemen kelasnya. Akan tetapi untuk mempermudah pemahaman kita, maka komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas itu dapat digolongkan ke dalam 2 kelompok besar. Kedua kelompok besar komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas itu adalah:
  1. Keterampilan yang berkaitan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal
  2. Keterampilan yang berkaitan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.

Sekarang marilah kita bahas lebih lanjut satu persatu tentang kedua kelompok komponen keterampilan pengelolaan kelas ini.

Pendekatan-Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas

pendekatan pengelolaan kelas
jenis pendekatan pengelolaan kelas apakah yang sedang anda gunakan?

Pendekatan-Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas

Jika kita mengamati bagaimana cara guru mengelola kelas atau memanajemen kelasnya, maka kita dapat menggolongkan jenis pendekatan yang digunakan oleh guru yang bersangkutan. Pendekatan-pendekatan ini memiliki ciri khasnya masing-masing yang saling membedakannya satu sama lain. Nah, mari anda pahami, kira-kira, termasuk pendekatan apakah yang anda gunakan di dalam kelas anda?

Pendekatan Kekuasaan

Beberapa guru menggunakan pendekatan kekuasaan dalam mengelola atau memanajemen kelasnya. Dalam pendekatan kekuasaan, guru adalah pemegang kuasa. Karakteristik yang paling menonjol pada pendekatan kekuasaan dalam mengelola kelas adalah tampak adanya suatu ketaatan siswa pada aturan yang telah dibuat oleh guru. Dalam melaksanakan pengelolaan kelasnya, guru mengontrol siswa dengan ancaman, sanksi, hukuman dan bentuk disiplin yang ketat dan kaku. Pendekatan Kebebasan
Jangan salah kira dengan sebutan untuk pendekatan kebebasan. Pendekatan kebebasan tidak sama dengan pembiaran. Pengelolaan kelas dengan pendekatan kebebasan tidak berarti lantas dalam praktiknya membiarkan anak belajar dengan bebas tanpa batas atau melakukan apapun di dalam kelas dengan bebas. Pendekatan kebebasan lebih berarti memberikan suasana dan kondisi belajar yang memungkinkan anak merasa merdeka, bebas, nyaman, penuh tantangan dan harapan dalam melakukan belajar.

Friday, October 24, 2014

Prinsip-prinsip Dasar Pelaksanaan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

Prinsip-prinsip Dasar Pelaksanaan PKB
Prinsip-prinsip Dasar Pelaksanaan PKB

Prinsip-prinsip Dasar Pelaksanaan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

Paling tidak ada 9 prinsip dasar yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan pengembangan keprofesian berkelanjutan untuk guru (PKB), yaitu:
  1. PKB harus fokus kepada keberhasilan peserta didik atau berbasis hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu, PKB harus menjadi bagian integral dari tugas guru sehari-hari. Hal ini tentu saja lumrah karena tujuan dari pengembangan keprofesian berkelanjutan pada muaranya adalah hasil belajar siswa yang meningkat. Sebagai output dari proses pembelajaran, kualitas siswa merupakan bukti bahwa telah terjadi peningkatan profesionalisme oleh guru yang bersangkutan.
  2. Setiap guru berhak mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri yang perlu diimplementasikan secara teratur, sistematis, dan berkelanjutan. Untuk menghindari kemungkinan pengalokasian kesempatan pengembangan yang tidak merata, proses penyusunan program PKB harus dimulai dari sekolah. Begitu besarnya jumlah guru di Indonesia tentu saja membuat pelaksanaan program pengembangan keprofesian berkelanjutan  harus direncanakan dengan baik. Pelaksanaan program ini harus diatur sedemikian rupa, sistematis, dan dan bersifat terus-menerus, agar terjadi peningkatan kualitas guru di negeri ini.
  3. Sekolah wajib menyediakan kesempatan kepada setiap guru untuk mengikuti program PKB dengan minimal jumlah jam per tahun sesuai dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan/atau sekolah berhak menambah alokasi waktu jika dirasakan perlu. Program pengembangan keprofesian berkelanjutan bukan saja kewajiban bagi guru, akan tetapi itu sudah merupakan haknya. Profesi guru menuntut perkembangan yang terus-menerus dari guru. Guru tidak dapat diam di tempat. Ia harus terus belajar dan mengembangkan diri untuk menjadi sosok yang profesional dan bermartabat.

Komponen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

komponen PKB guru
komponen PKB guru

Komponen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

Pengembangan keprofesian berkelanjutan harus dilakukan berdasarkan kebutuhan guru yang bersangkutan. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan untuk mencapai dan/atau meningkatkan kompetensinya di atas standar kompetensi profesi guru. Hal ini nantinya juga sekaligus berimplikasi pada perolehan angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru.

Pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, PKB adalah unsur utama yang kegiatannya juga diberikan angka kredit untuk pengembangan karir guru, selain kedua unsur utama lainnya, yakni: (1) pendidikan;  (2) pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan. Menurut Permennegpan itu telah pula dijelaskan bahwa pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) terdiri dari 3 komponen, yaitu:
  • pengembangan diri
  • publikasi ilmiah
  • karya inovatif.

Pengembangan Diri

Pengembangan diri merupakan upaya-upaya  yang dilakukan oleh seorang guru dalam rangka meningkatkan profesionalismenya. Dengan demikian ia akan mempunyai kompetensi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ia diharapkan akhirnya akan dapat melaksanakan tugas pokok dan kewajibannya dalam pembelajaran/pembimbingan,  termasuk pula dalam melaksanakan tugas-tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/ madrasah.

Konsep Dan Implementasi PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan)

konsep dan implementasi PKB guru
konsep dan implementasi PKB guru

Konsep Dan Implementasi PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan)

Pengertian PKB

PKB adalah bentuk pembelajaran berkelanjutan bagi guru yang merupakan kendaraan utama dalam upaya membawa guru pada perubahan yang diinginkan, yaitu pengembangan profesinya. Muara akhir yang diharapkan sebenarnya berkaitan dengan keberhasilan siswa. Guru-guru yang melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) akan membawa pembelajarannya untuk menjadikan siswa-siswanya dapat mempunyai pengetahuan lebih, mempunyai keterampilan lebih baik, dan menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang materi ajar serta mampu memperlihatkan apa yang mereka ketahui dan mampu melakukannya.

Implementasi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

Dalam praktiknya, pengembangan keprofesian berkelanjutan untuk guru ini mencakup berbagai cara dan/atau pendekatan. Cara-cara atau pendekatan yang dilakukan ini akan membuat guru secara berkesinambungan belajar. Ini tentunya akan dapat dilakukan oleh guru setelah memperoleh pendidikan dan/atau pelatihan awal sebagai guru.

Diharapkan, nantinya pelaksanaan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) ini akan mendorong guru untuk memelihara dan meningkatkan standar mereka secara keseluruhan mencakup bidang-bidang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai suatu profesi (guru dipandang sebagai sebuah profesi). Pada gilirannya, guru akan dapat memelihara, meningkatkan, memperluas pengetahuan, dan keterampilannya. Ia juga akan dapat membangun kualitas pribadi yang dibutuhkan di dalam kehidupan profesionalnya sebagai seorang guru.

Friday, October 17, 2014

Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas

Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas
Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas

Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas (Manajemen Kelas)

Sebagai kelanjutan dari tulisan-tulisan sebelumnya tentang manajemen kelas, maka kali ini blog penelitian tindakan kelas akan menyajikan tulisan tentang prinsip-prinsip yang dapat dipergunakan untuk pengelolaan kelas.

Djamarah, Syaiful Bahri (2002) dalam buku Strategi Belajar Mengajar yang diterbitkan oleh  Rineka Cipta, Jakarta menyebutkan bahwa untuk mereduksi permasalahan atau gangguan dalam pengelolaan kelas manajemen kelas guru dapat dipergunakan beberapa prinsip-prinsip pengelolaan kelas. Beberapa prinsip pengelolaan kelas itu adalah sebagai berikut.
  1. Kehangatan dan antusiasme
  2. Tantangan
  3. Variasi
  4. Luwes
  5. Penekanan pada hal-hal positif
  6. Penanaman disiplin
Baiklah, untuk lebih jelasnya apa saja yang dimaksud sebagai prinsip-prinsip di atas, marilah kita baca uraiannya berikut ini.

Kehangatan dan antusiasme

Bagaimana rasanya jika suatu ketika anda sendiri bertemu dengan seseorang yang dalam berkomunikasi dengan anda terasa demikian hangatnya? Ia tersenyum, dengan wajahnya yang manis (tidak masam) berbicara kepada anda. Kata-katanya lembut dan menenangkan, atau paling tidak ia selalu berkata-kata sopan dan menampakkan bagaimana ia menghargai anda sebagai lawan bicara. Pasti menyenangkan bukan? Nah demikian juga halnya dengan siswa. Dalam melaksanakan pengelolaan kelas (manajemen kelas), setiap guru yang berkomunikasi dengan siswa-siswanya haruslah menunjukkan kehangatan. Walapun kesan kehangatan ini sifatnya implisit (tidak diungkapkan secara langsung dengan kata-kata), akan tetapi bagaimana guru bertutur dan bersikap kepada siswanya akan memberikan kesan tertentu bagi mereka. Guru juga selain menunjukkan sifat hangat bersahabat, juga harus menunjukkan antusiasme. Antusiasme dapat terpancar dari cara anda bergerak, bagaimana roman muka anda, dan kata-kata yang terlontar dari mulut anda. Tunjukkanlah selalu, bahwa anda dalam menjalankan profesi sebagai seorang guru selalu antusias selama proses pembelajaran belangsung di kelas, bahkan saat bertemu siswa di luar jam pelajaran (di luar kelas).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Kelas

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Kelas
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Kelas

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Kelas


Saat melakukan manajemen kelas (pengelolaan kelas), guru harus memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh. Kedua faktor ini amat menentukan keberhasilan guru dalam melakukan manajemen kelas. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses manajemen kelas (pengelolaan kelas) yang dilakukan guru dapat dibedakan ke dalam 2 golongan yaitu:
  1. Faktor internal siswa
  2. Faktor eksternal siswa

Faktor internal siswa

Faktor internal siswa adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku yang ada di dalam diri masing-masing siswa yang ada di kelas yang bersangkutan.

Tujuan Manajemen Kelas (Pengelolaan Kelas)

Tujuan Manajemen Kelas
Tujuan Manajemen Kelas

Tujuan Manajemen Kelas

Sebelumnyadi blog kesayangan kita ini telah dibahas tentang pengertian manajemen kelas dan juga manajemen kelas dalam kaitannya dengan guru. Masih melanjutkan seri tentang manajemen kelas ini, kali ini akan diuraikan mengenai apa saja tujuan-tujuan manajemen kelas yang dilakukan oleh seorang guru.

Setiap guru yang melakukan fungsi manajemen di dalam kelasnya tentu mempunyai tujuan-tujuan khusus yang bermuara pada terciptanya kondisi belajar yang ideal selama proses pembelajaran berlangsung. Secara khusus tujuan-tujuan manajemen kelas antara lain:

  • Membuat siswa belajar semaksimal mungkin sesuai potensi yang dipunyainya

Setiap guru harus menyadari bahwa semua siswa memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Tugas guru adalah mengoptimalkan potensi yang mereka miliki sehingga dengan pembelajaran yang siswa lakukan, mereka dapat belajar sebaik-baiknya. Manajemen kelas yang baik dan efektif memungkin proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan memungkinkan siswa menggunakan semaksimal mungkin potensi yang mereka miliki. Adalah sebuah kerugian yang besar jika dalam pelaksanaan pengajaran, siswa tidak belajar secara maksimal karena adanya hambatan-hambatan belajar yang diakibatkan karena lemahnya manajemen kelas yang dilakukan oleh guru.
  • Menghilangkan atau mereduksi hambatan-hambatan pembelajaran

Manajemen kelas yang baik akan dapat menghilangkan atau paling tidak mereduksi (mengurangi) hambatan-hambatan belajar yang selalu akan muncul selama proses pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran dapat terhambat oleh beragam sebab. Di dalam sebuah kelas misalnya, hambatan bisa saja muncul dari salah satu siswa

Pengertian Manajemen Kelas (Pengelolaan Kelas)

Pengertian Manajemen Kelas
Pengertian Manajemen Kelas

Pengertian Manajemen Kelas (Pengelolaan Kelas)

Sebelumnya di blog penelitian tindakan kelas ini telah dibahas tentang tinjauan umum manajemen kelas dalam kaitannya dengan guru. Kali ini pembahasan akan kita lanjutkan kepada pengertian manajemen kelas.

Manajemen kelas adalah sinonim dengan pengelolaan kelas. Dilihat dari kata penyusunnya, manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Sebelum kita masuk kepada pengertian utuh tentang manajemen kelas, ada baiknya kita perhatikan terlebih dahulu apa itu manajemen dan apa itu kelas.

Pengertian Manajemen


  • Menurut wikipedia, Mary Parker Follet mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Dari pengertian tentang manajemen oleh Mary Parker Follet ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Manajemen dalam pelaksanaannya dilakukan sesuai proses. Paling tidak ada 4 proses yang dilakukan untuk melakukan suatu manajemen, yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian.
  • Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

Thursday, October 16, 2014

Manajemen Kelas dan Guru

guru dan manajemen kelas
Guru adalah manajer di kelasnya

Manajemen Kelas dan Guru


Guru adalah manajer bagi kelasnya. Oleh karena itu guru harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang baik tentang bagaimana membuat kondisi kelas menjadi kondusif untuk belajar siswa. Kelas yang baik dan memiliki manajemen kelas yang bagus akan membuat siapapun merasa nyaman berada di sana, entah itu murid, guru, ataupun orang lain yang mungkin sesekali hadir di dalam kelas tersebut.

Banyak hal (unsur) yang membangun dan menunjang penciptaan kondisi kelas yang baik. Dan, ini tentu saja memerlukan manajemen yang efektif dari guru yang bersangkutan (guru yang mengajar di kelas tersebut atau guru wali kelas). Jika kita mencermati komponen-komponen yang membangun sebuah kelas, maka kita akan mendapati puluhan siswa dengan beragam potensi, latar belakang, dan kemampuan yang berbeda (semuanya unik). Selain itu tentu juga ada sang guru itu sendiri yang berperan sebagai manajer kelasnya, serangkaian metode mengajar, lingkungan fisik kelas, hingga atmosfer yang karena proses pembelajaran yang dilakukan oleh anggota kelas (guru dan siswa) untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Peran manajerial yang dilakukan oleh guru harus dilakukan dengan baik, efektif, dan berkelanjutan dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan pembelajaran tersebut karena sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, manajemen kelas yang baik akan membuat suasana yang kondusif untuk pembelajaran.

Friday, October 3, 2014

Unsur-Unsur dalam Proses Pembelajaran Dan Hubungannya dengan Strategi Pengajaran

Unsur-Unsur dalam proses Pembelajaran Dan Hubungannya dengan Strategi Pengajaran


Kali ini, blog penelitian tindakan kelas dan model-model pembelajaran akan mengetengahkan sebuah pendapat dari Martha Kaufeldt tentang unsur-unsur pembelajaran dalam hubungannya dengan strategi pengajaran yang dilakukan oleh guru.

Unsur-Unsur dalam Proses Pembelajaran Dan Hubungannya dengan Strategi Pengajaran
unsur-unsur dalam proses pembelajaran
Jika membicarakan tentang strategi pengajaran, maka kita tiak akan bisa lepas dari unsur-unsur sebuah pembelajaran. Menurut Martha Kaufeldt (2008) dalam buku Teachers, Change Your Bait! Brain – Compatible Differentiated Instruction yang diterbitkan oleh Crown House Publishing Company LL.C. USA,  terdapat 6 unsur dalam sebuah proses pembelajaran yaitu:
  1. Lingkungan fisik
  2. Lingkungan sosial
  3. Penyajian oleh guru
  4. Konten atau materi pembelajaran
  5. Proses pembelajaran
  6. Produk-produk pembelajaran

Martha Kaufeldt menyarankan dalam menentukan strategi-strategi pengajaran guru harus memperhatikan ke-6 unsur ini dengan baik dan mempertimbangkan keserasiannya dengan otak siswa. Strategi pengajaran terbaik tidak akan dapat memberikan hasil yang optimal apabila diterapkan dalam lingkungan yang berlawanan dengan prinsip-prinsip cara otak siswa bekerja. Karena itu, guru seyogyanya memikirkan pengajaran yang berbeda sebagai sebuah unsur yang sangat penting agar harmonis dengan otak. Ini tentu berkaitan dengan uniknya setiap individu siswa, sehingga guru akan semakin dapat merancang pembelajaran dan lingkungan belajar yang sesuai dengan standar kurikulum yang berlaku.

Beberapa tips yang diberikan oleh Kaufeldt berkaitan dengan ke-6 unsur pembelajaran, penyesuaian dengan cara kerja otak manusia dan pengajaran yang berbeda (differentiated instruction) tersebut adalah:

Sunday, September 21, 2014

Bagaimana Cara Cek Data PTK Penerima Tunjangan Sertifikasi tahun 2014/2015 Di Dapodikdas

Bagaimana Cara Cek Data PTK Penerima Tunjangan Sertifikasi tahun 2014/2015 Di Dapodikdas

Bagaimana update data di dapodik (dapodikdas)nya Bapak dan Ibu guru? Sudah belum. Mudah-mudahan sudah ya, karena masa update dan upload data sudah hampir berakhir(20 September 2014) untuk semester pertama tahun pembelajaran 2014/2015 atau triwulan  3 dan 4 tahun 2014 (Juli 2014 – Desember 2014).

Jika sudah melakukan proses update dan upload, Bapak Ibu guru bisa cek apakah SK tunjangan profesi guru atau yang biasa kita kenal dengan nama tunjangan sertifikasi sudah keluar Sknya secara online di alamat berikut:


http://223.27.144.195:8085/index.php atau http://223.27.144.195:8086/index.php

Jika Bapak atau Ibu guru menuju ke salah satu alamat tersebut di atas, maka Bapak Ibu guru akan dibawa ke halaman dengan tampilan berikut.
Ada user id yang harus Bapak Ibu guru isi, kemudian password dan kode captcha (verifikasi). Data user id merupakan nomor registrasi guru (NRG) milik Bapak atau Ibu guru yang terdiri dari 16 digit angka, sedangkan password adalah tahun lahir bulan lahir dan tanggal lahir Bapak atau Ibu guru yang terdiri dari 8 digit angka.

Contoh:

USER ID : 542067671520003
PASSWORD : 19650203 (tahun lahir 1965, bulan februari, tanggal 03)
CAPTCHA : 3FLDKY


Jika semua data yang diminta sudah Bapak atau Ibu guru masukkan, maka akan muncul status SK pembayaran tunjangan profesi guru (tunjangan sertifikasi) yang bersangkutan. Jika masih terdapat ke tidak sesuaian data di lembar info PTK dengan data riil, maka lakukan pengecekan data Anda di Aplikasi dapodik sekolah, lakukan perbaikan dan disynkron ulang. Selamat mencek status SK pembayaran tunjangan profesi guru (sertfikasi guru) Bapak dan Ibu. Demikian artikel tentang Bagaimana Cara Cek Data PTK Penerima Tunjangan Sertifikasi tahun 2014/2015 Di Dapodikdas.

Semoga bermanfaat.

Tuesday, June 10, 2014

Tips Memanajemen Pembelajaran Berbasis Proyek

Tips Memanajemen Pembelajaran Berbasis Proyek

Kali ini blog kesayangan anda, penelitian tindakan kelas dan model-model pembelajaran masih membahas tentang model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) untuk menyambut pemberlakuan Kurikulum 2013 nanti. Kali ini yang dikupas adalah beberapa tips praktis untuk manajemen pembelajaran berbasis proyek.

Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat anda gunakan saat memanajemen pelaksanaan model pembelajaran berbasis proyek di dalam kelas anda.

Gunakan sosial media.

Sebagai guru anda tentu harus dapat memonitor setiap perkembangan proyek yang dilakukan anak-anak. Teknologi jaman sekarang telah dapat digunakan bahkan sampai ke pelosok. Karena itu pemanfaatan internet dalam hal ini sosial media seperti facebook dan bahkan google drive dapat membantu anda dan siswa saling terhubung satu sama lain. Anda sebagai guru dapat memberikan masukan-masukan atau saran-saran dan umpan balik saat siswa mengupload berita perkembangan terbaru mengenai proyek mereka. Anda juga dapat mengoreksi draft dokumen seperti laporan proyek yang sedang mereka garap.

Gunakan bahasa yang menarik

Saat anda sebagai guru membuat pengumuman atau arahan kepada siswa saat berada di dalam kelas, hindari penggunaan kata-kata yang “biasa dan sering mereka dengar” seperti, “Anak-anak, perhatikan sebentar, ini penting”, atau kata-kata sejenisnya. Tetapi, sangat baik dan sangat memotivasi jika anda menggunakan kata-kata seperti, “Baik, para manajer proyek, saya ingin kalian memperhatikan hal-hal berikut sebelum mulai bekerja” dan sejenisnya. Memotivasi mereka dengan kata-kata seperti itu dapat menggugah semangat kreatif mereka.

Atasi Siswa atau kelompok siswa yang sulit

Di dalam kelas manapun dan sekolah manapun selalu ada siswa-siswa yang sulit. Sulit di sini maksudnya adalah siswa yang kurang termotivasi atau bahkan tidak termotivasi sama sekali. Oleh karena itu pembelajaran proyek yang anda lakukan ada baiknya selalu mengkombinasikan antara kerja tim dan individual. Variasi keduanya secara tepat akan membantu siswa sulit untuk lebih memiliki rasa tanggungjawab dan dapat membantu mereka memunculkan motivasi dari dalam diri mereka sendiri. Selain itu, selalulah ‘aware’ terhadap mereka. Apabila mereka telah melakukan suatu kegiatan dengan cukup baik, berikanlah pujian yang sewajarnya.

Frekuensi penilaian formatif lebih banyak

Model pembelajaran berbasis proyek memerlukan waktu yang lebih panjang dalam pelaksanaannya dibanding model pembelajaran lainnya, karena itu lakukanlah penilaian formatif dalam rentang waktu tertentu di setiap tahapan proyek yang mereka (siswa) lakukan. Hal ini tidak hanya menguntungkan siswa untuk memperoleh nilai yang lebih bagus, tetapi juga akan sangat bermanfaat bagi anda sebagai guru karena dengan demikian sekaligus anda telah melakukan monitoring pelaksanaan proyek siswa langkah per langkah.

Berikan kesempatan yang lebih besar kepada siswa

Model pembelajaran berbasis proyek seringkali melelahkan apabila tidak dimanajemen dengan baik, baik dilihat dari sisi siswa maupun bagi guru. Karena itu, guru seyogyanya selalu memberikan kesempatan kepada mereka untuk menikmati proyek yang dilakukan dengan memberi kemungkinan yang lebih luas dalam kreativitas dan pemecahan masalah. Ide-ide dari siswa patut diberikan penghargaan dan diakomodasi agar mereka tidak menjadi bosan dan merasa bahwa pembelajaran dan proyek itu adalah milik mereka sendiri dan mereka punya keinginan untuk menyelesaikannya dengan sukses.

Bantu mereka menyelesaikan proyek secara bertahap

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa model pembelajaran berbasis proyek memerlukan waktu dan kerja dalam rentang waktu yang relatif lama (sekitar dua mingguan), maka bagilah proyek mereka ke dalam tahapan-tahapan yang dapat mereka manajemen. Jika mereka menemui kesulitan pada suatu tahapan, bantulah mereka dan jangan biarkan mereka kebingungan. Tahapan-tahapan penting dalam penyelesaian sebuah proyek.

Buat kontrak dengan tim (kelompok siswa)

Jika pembelajaran berbasis proyek dilakukan secara tim atau berkelompok maka ada baiknya anda membantu mereka dengan membuat sebuah kontrak proyek. Kontrak proyek dapat dibuat antara guru (anda) dengan setiap kelompok, misalnya kapan proyek atau tahapan-tahapan tertentu dari proyek harus selesai. Sementara, antara sesama siswa dalam tim dapat dibuat kontak tugas yang mana di dalamnya berisi pembagian tugas sehingga semua rencana dapat mereka jalankan dengan baik.

Buatlah tim yang solid

Jangan sesekali membentuk kelompok siswa untuk proyek secara acak. Anda harus jeli menyusun semua siswa yang ada di kelas anda dan memasukkannya ke setiap kelompok sedemikian rupa sehingga masing-masing tim atau kelompok siswa akan mempunyai kemungkinan berhasil menyelesaikan proyek secara setara. Cara-cara pengelompokan sebagaimana yang disarankan dalam implementasi model pembelajaran kooperatif dapat diterapkan di sini.

Berikan kebebasan siswa untuk menentukan peranannya di dalam setiap kelompok

Setelah kelompok atau tim siswa terbentuk, berikan kebebasan kepada mereka untuk menentukan peranannya masing-masing, tetapi tetap dalam prinsip keadilan. Ini dapat dilakukan pada saat anda membantu siswa (kelompok siswa) membuat kontak bersama di dalam kelompoknya.

Konflik dalam kelompok adalah hal yang wajar

Ajarkan kepada siswa dalam kelompok bahwa perbedaan pendapat, kritik dari anggota lainnya, dan hal-hal semacamnya adalah wajar. Itulah yang namanya dinamika sebuah tim. Mereka harus menyadari bahwa justru perbedaan pendapat akan membantu mereka menemukan ide-ide baru yang orisinil untuk penyelesaian proyek mereka. Bantu mereka belajar bagaimana mengatasi adanya konflik di dalam sebuah tim.

Rayakan setiap pencapaian

Pembelajaran berbasis proyek sebenarnya terdiri dari tahapan-tahapan proyek. Apabila siswa telah selesai menyelesaikan seluruh tahapan dari rangkaian dan berarti proyek mereka tuntas, maka rayakanlah keberhasilan mereka di kelas anda. Buat sesuatu yang dapat menyenangkan mereka. Anda juga dapat memberikan kesempatan kepada setiap tim untuk mengekspresikan kegembiraan dan keberhasilan tim mereka dalam menyelesaikan proyek, biar bagaimanapun kualitas hasil proyek yang mereka dapatkan.

Berikan umpan balik yang bermanfaat dan mudah dipahami

Setelah berakhirnya penyelesaian sebuah proyek oleh siswa atau kelompok siswa, mereka membutuhkan feedback atau umpan balik dari anda. Umpan balik diperlukan agar mereka dapat bekerja dan belajar lebih baik pada kegiatan pembelajaran berbasis proyek berikutnya. Berikan umpan balik yang mudah dimengerti.

Baca juga:
Beberapa Pertanyaan yang Harus Dijawab Sebelum Merencanakan Model Pembelajaran Berbasis proyek
Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kurikulum 2013


Monday, June 9, 2014

Beberapa Pertanyaan Penting Dalam Perencanaan Pembelajaran Berbasis Proyek

Beberapa Pertanyaan Penting Dalam Perencanaan Pembelajaran Berbasis Proyek


Model pembelajaran berbasis proyek bakal booming dalam pelaksanaannya di sekolah-sekolah di Indonesia. Mengapa? Karena dalam implementasi Kurikulum 2013 yang serentak mulai dilaksanakan di seluruh Indonesia mulai tahun pembelajaran 2014/2015, model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) adalah salah satu dari 3 model pembelajaran yang merupakan bagian d ari pendekatan saintifik. Dua model pembelajaran lainnya adalah model pembelajaran penemuan (discovery-based learning) dan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning).

Pertanyaan Penting yang Harus Dijawab Sebelum Merencanakan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Baiklah, apa saja yang harus dipersiapkan guru dalam memulai perencanaan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) ini? Beberapa pertanyaan berikut ini akan dapat membantu anda para guru untuk perencanaan pembelajaran berbasis proyek di kelas nantinya.

Daftar Pertanyaan Penting yang Harus Dijawab Sebelum Merencanakan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning):
  1. Apa nama proyek yang akan dikerjakan siswa anda?
  2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh siswa/kelompok siswa dalam menyelesaikan proyek tersebut?
  3. Bagaimana cara saya mempersiapkan siswa agar proyek mereka dapat berjalan dengan lancar?
  4. Bagaimana tingkat kesulitan proyek yang mereka harus lakukan?
  5. Apa manfaat proyek ini bagi siswa, baik secara tujuan kurikulum (isi) maupun nilai tambahnya?
  6. Bahan-bahan apa saja yang mereka perlukan?
  7. Alat-alat apa saja yang mereka perlukan?
  8. Referensi apa yang bisa dijadikan rujukan bagi proyek siswa? Buku di perpustakaan sekolah? Situs internet?
  9. Bagaimana strategi pembelajaran yang saya gunakan dalam pembelajaran berbasis proyek kali ini?
  10. Berapa jam tatap muka saya butuhkan untuk memberikan arahan dan presentasi hasil pembelajaran proyek siswa?
  11. Bagaimana saya mengatur penjadwalan monitoring siswa dalam mengerjakan proyek mereka?
  12. Bagaimana cara atau teknis penilaian yang akan saya lakukan terhadap kegiatan pembelajaran proyek ini?
Demikian beberapa pertanyaan yang sebaiknya terlebih dahulu guru jawab sebelum membuat perencanaan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) di kelasnya. Semoga sukses mengimplementasikan kurikulum 2013, dan selamat melaksanakan pembelajaran berbasis proyek.

Baca juga tulisan lainnya tentang pembelajaran berbasis proyek:
Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kurikulum 2013

Sunday, June 1, 2014

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)

Definisi/Konsep Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).

KELEBIHAN PROBLEM BASED LEARNING (MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH)

  • Dengan PBL akan terjadi pembelajaran  bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan
  • Dalam situasi PBL, peserta     didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan
  • PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Langkah-langkah Operasional  dalam  Proses Pembelajaran

Konsep Dasar (Basic Concept)

Guru atau fasilitator  memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran

Langkah-langkah Operasional  dalam  Proses Pembelajaran

a. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem)
Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai kegiatan brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat

b. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)
Peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan.

c. Tahap investigasi (investigation)
Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami.


d. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge)
Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.


5. Penilaian (Assessment)


Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian.

Contoh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)

Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul.
Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.

Contoh Penerapan
Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat.

Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.


SISTEM PENILAIAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.

Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.

SISTEM PENILAIAN

Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment.

Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar.

Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya.

Baca Juga:
Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) dalam Kurikulum 2013
Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) dalam Kurikulum 2013
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...